Sehat Tapi Enak

My Book 0 Comments

Buku ini dapat di beli di http://andipublisher.com/

SEHAT TAPI ENAK lima

 

 

 

Kata Pengantar

 

Kesehatan adalah topik yang banyak dibahas oleh masyarakat beberapa tahun terakhir ini. Banyak penyakit bermunculan yang menyebabkan banyak orang mulai memperhatikan nutrisi makanan yang kita konsumsi. Saya banyak mempelajari “Nutrisi Dasar” sewaktu saya belajar di Perguruan Tinggi. Waktu itu, saya merasa nutrisi adalah hal baru yang amat sangat menarik untuk dipelajari. Mata pelajaran “Nutrisi” menjadi salah satu pelajaran favorit saya. Namun demikian hal ini bertentangan dengan keidealisan saya sebagai seseorang yang suka memasak. Awalnya sebagai seorang yang belajar sekolah masak, tentunya saya terlatih untuk mementingkan rasa dibandingkan nutrisi. Bukannya tidak memikirkan kesehatan tetapi nutrisi bukanlah sesuatu yang saya utamakan nomor satu. Mungkin nomor dua setelah rasa.

Masalah barulah dimulai beberapa tahun terakhir ini. Dimana saya diperhadapkan pada banyak sakit –penyakit di dalam keluarga saya. Mau tidak mau saya belajar untuk memasak secara sehat. Dalam arti saya mulai memperhatikan bahan-bahan yang saya masak dan tidak kalah penting bagaimana cara saya memasaknya. Suatu kebohongan bila saya bilang saya akhirnya bisa memasak makanan sehat dan enak sama seperti semua masakan saya sebelumnya. Sejujurnya kalau boleh saya katakan masakan sehat itu tidak enak. Mengapa? Karena makanan enak identik dengan makanan berlemak. Saya rasa jarang sekali orang bilang ,”makanan kesukaan saya adalah sayuran rebus!” Sebutkan saja makanan kesukaan kita, pastinya kebanyakan tidak jauh dari semua yang berminyak, digoreng, bersantan, dan jangan lupa juga berkandungan gula tinggi.

Nah, menurut saya hal rasa inilah yang menjadi masalah utama. Orang tidak akan tertarik untuk makan makanan sehat. Walaupun mereka berusaha pada awalnya tetapi tanpa keteguhan hati yang kuat, rasanya hal ini mustahil. Tidak sedikit saya bertemu orang yang awalnya menjaga makanan dengan ketat dan akhirnya kembali ke kebiasaan lama. Permasalahannya adalah di rasa makanan sehat yang tidak enak.

Dari masalah ini saya berusaha mencari sebuah solusi yang baik. Bisa dikatakan adalah “Win-Win Solution” yang artinya rasanya tidak buruk tetapi juga sehat. Bagaimana solusi yang saya maksudkan? Pertama, ternyata ada banyak trik yang bisa kita lakukan untuk mengatasi hal ini yang salah satunya adalah pemilihan menu yang tepat dan juga bahan yang berkualitas. Menu makanan kategori sehat dan enak inilah yang saya akan usahakan untuk hadirkan untuk para pembaca. Kedua, saya pribadi mempercayai bahwa panca indera perasa kita itu bisa dilatih. Saya dulunya adalah seseorang yang menyukai makanan asin, manis dan ber MSG. Setelah saya belajar banyak hal tentang nutrisi, saya mulai menguranginya. Awalnya semua makanan berasa hambar dan kurang enak. Lama kelamaan, saya sama sekali tidak keberatan bahkan kegemaran saya terhadap makanan asin berkurang dan saya tidak bisa lagi membedakan mana makanan ber MSG dan tidak. Ketiga, saya menyadari bahwa kita masih hidup di lingkungan yang tidak terlepas dari kata tradisi dan juga makanan favorit. Contohnya, saya adalah orang Jogja yang kononnya tidak bisa dipisahkan dari makanan khas “Gudeg”. Padahal kalau kita pernah mencoba makan “Gudeg”, pasti kita tahu bahwa gudeg adalah makanan bersantan, berminyak dan juga manis. Bila saya menjaga konsumsi makanan saya, “apakah ini berarti saya tidak bisa makan Gudeg lagi seumur hidup saya?” Bagaimana pendapat anda? Mungkinkah? Ini hanya saja satu contoh makanan, bagaimana dengan makanan-makanan kesukaaan kita lainnya? Rasanya mustahil, iya kan? Oleh sebab itu; dalam buku masakan ini saya mencoba menyarankan beberapa trik dan cara memasak seperti stir-fry, memanggang, merebus, mengukus supaya kita tetap bisa menikmati makanan yang kita sukai dengan tawaran nutrisi yang lebih baik. Tentunya saya tidak bisa mencakup semua masakan yang ada tetapi harapan saya di akhir anda membaca buku masakan ini, anda akan mempelajari pola memasak yang baru yang dapat anda kembangkan sendiri di dalam anda memasak.

Bagi saya daripada saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa saya tepati lebih baik saya membuat batasan-batasan yang lebih nalar dan pastinya bisa kita lakukan. Bila kita berbicara hidup sehat, di mata saya itu sama dengan membangun lifestyle atau pola hidup yang sehat. Membangun itu artinya perlu waktu dan juga adaptasi. Prinsip ini saya dengar sejak saya sekolah dan terlebih lagi setelah saya menghadapi masalah itu sendiri, saya membuktikan bahwa prinsip ini benar. Saya menghadapi dimana saya harus mendorong keluarga saya untuk berpola makan sehat. Namun demikian, tidaklah mustahil untuk membangun sebuah pola hidup yang sehat. Semua butuh waktu, usaha dan kesungguhan hati. Mari kita bersama-sama membangun keluarga yang sehat dan bahagia tentunya!

 

Anyone Can Cook!

 

Sheila Gondowijoyo

Komentar

komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *